Rekrutmen Tenaga Kerja Blok Masela Disorot, Tokoh Muda Tanimbar Desak Transparansi dan Prioritas Lokal

- Redaksi

Selasa, 7 April 2026 - 17:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Protes rekrutmen karyawan

Ilustrasi Protes rekrutmen karyawan

TANIMBAR, KLIKINDONESIA.CO — Polemik rekrutmen tenaga kerja dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela kian memanas di Kepulauan Tanimbar. Di tengah janji kesejahteraan bagi masyarakat setempat, muncul kegelisahan soal transparansi dan keadilan dalam proses perekrutan yang disebut melibatkan pihak ketiga, Selasa (7/4/2026).

Tokoh muda Tanimbar, Petrus Livurngorvaan, angkat suara. Ia menilai rekrutmen yang tidak terbuka berpotensi menjadi pintu masuk praktik yang merugikan pencari kerja lokal.

“Kami tidak menolak investasi. Tapi jangan jadikan tanah kami sebagai pasar tenaga kerja terselubung. Kalau rekrutmen tidak jelas, publik berhak curiga—siapa yang sebenarnya diuntungkan?” tegas Petrus.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Petrus, keresahan warga bukan sekadar asumsi, melainkan reaksi atas minimnya keterbukaan pada proses yang semestinya menjadi jalur utama peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Dalam struktur industri hulu migas, operator seperti INPEX Corporation memiliki kewenangan teknis, sementara SKK Migas mengawasi pelaksanaan kegiatan hulu migas atas nama negara. Namun Petrus mempertanyakan mengapa rekrutmen tenaga kerja dalam jumlah besar justru diserahkan kepada pihak ketiga.

“Kalau perusahaan sebesar INPEX dan pengawasan SKK Migas tidak mampu rekrut langsung, lalu siapa yang mengontrol akses kerja ini? Jangan sampai peluang kerja berubah jadi komoditas yang diperjualbelikan,” katanya.

Ia mengakui penggunaan vendor atau kontraktor tenaga kerja lazim dalam proyek berskala besar. Meski begitu, ia menegaskan “kewajaran industri” tidak boleh mengorbankan prinsip transparansi dan rasa keadilan bagi warga setempat.

Sorotan “pungutan terselubung”

Salah satu titik yang disoroti adalah potensi pembiayaan dalam proses rekrutmen. Secara teknis, biaya perekrutan bisa masuk dalam struktur biaya proyek, namun Petrus mengingatkan potensi penyimpangan di lapangan.

“Pertanyaan sederhana kami: apakah ada biaya yang dibebankan ke pencari kerja? Kalau ada ‘uang masuk’ atau pungutan tidak resmi, itu pengkhianatan terhadap masyarakat lokal,” ujarnya.

Ia menilai, tanpa pengawasan ketat, skema pihak ketiga dapat membuka ruang praktik “jual-beli akses kerja”, nepotisme, hingga dominasi tenaga kerja dari luar daerah.

“Tuan rumah” yang takut terpinggirkan

Petrus juga menyinggung aspek yang ia sebut paling sensitif: posisi masyarakat Tanimbar sebagai pemilik wilayah.

“Kami ini tuan rumah. Tapi kenapa justru harus bersaing di rumah sendiri tanpa kejelasan aturan? Ini bukan sekadar soal kerja. Ini soal harga diri,” katanya.

Ia mengingatkan, prinsip local content dan prioritas tenaga kerja lokal kerap menjadi mandat dalam tata kelola proyek migas. Karena itu, ia mendesak agar pemerintah daerah tidak pasif dan mengambil peran aktif untuk memastikan hak tenaga kerja lokal benar-benar diprioritaskan.

Desak pembukaan mekanisme rekrutmen

Petrus meminta proses rekrutmen dibuka terang kepada publik—mulai dari dasar penunjukan pihak ketiga hingga mekanisme seleksi.

“Kalau semua transparan, tidak akan ada kecurigaan. Tapi kalau tertutup, jangan salahkan rakyat kalau mulai berpikir ada permainan,” ujarnya.

Polemik ini, menurut Petrus, menjadi ujian keberpihakan negara dalam proyek strategis nasional. “Blok Masela ini untuk siapa? Kalau masyarakat lokal hanya jadi penonton, maka ini bukan pembangunan. Ini peminggiran yang dilegalkan,” pungkasnya.##

Penulis : Daswinson Oratmangun

Editor : Budi Dako

Sumber Berita: Klik Indonesia

Klik Terkait

Persija Resmi Tunjuk Shin Tae Yong Jadi Pelatih
PDIP Beri Salinan Ijazah Jokowi ke YouTuber Mikhael Sinaga
Plt Gubernur Riau Apresiasi Strategi TP-PKK Kota Pekanbaru Dongkrak PAD
Perkuat SDM Perikanan, Wabup Bangkep Audiensi dengan Politeknik KP Bone
KAI Batalkan 8 Perjalanan Kereta Hari Ini, Berikut Daftarnya
Presiden Prabowo Reshuffle Kabinet Merah Putih, 6 Pejabat Dilantik
Dandim 1308 Luwuk Banggai Sambangi Koramil Liang, Tekankan Sinergi
Menkeu Purbaya Ancam ‘Tendang’ Pegawai yang Tak Patuh Arahan

Klik Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 20:19 WIB

Persija Resmi Tunjuk Shin Tae Yong Jadi Pelatih

Senin, 8 Juni 2026 - 19:51 WIB

PDIP Beri Salinan Ijazah Jokowi ke YouTuber Mikhael Sinaga

Senin, 8 Juni 2026 - 16:30 WIB

Plt Gubernur Riau Apresiasi Strategi TP-PKK Kota Pekanbaru Dongkrak PAD

Senin, 4 Mei 2026 - 19:01 WIB

Perkuat SDM Perikanan, Wabup Bangkep Audiensi dengan Politeknik KP Bone

Rabu, 29 April 2026 - 09:49 WIB

KAI Batalkan 8 Perjalanan Kereta Hari Ini, Berikut Daftarnya

Klik Terbaru

Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) Febrie Adriansyah merasa dikriminalisasi usai ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan penyidik Korps Adhyaksa dalam dugaan kasus korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). (CNN Indinesia/ANT)

Hukum & Kriminal

Kejagung Tahan Eks Jampidsus Febrie di Rutan KPK, Ini Alasannya

Sabtu, 25 Jul 2026 - 01:10 WIB