Inggris kehilangan sanksi terhadap Suriah, fokus pada keuangan dan energi

- Redaksi

Jumat, 25 April 2025 - 11:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Inggris pada hari Kamis (24/4) mengumumkan pencabutan beberapa sanksi terhadap Suriah, termasuk di sektor jasa keuangan dan produksi energi.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk mendukung rekonstruksi negara setelah lebih dari satu dekade konflik.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keputusan ini menandai perubahan kebijakan Inggris setelah referensi ke Presiden Bashar al-Assad pada bulan Desember tahun lalu.

Dalam pernyataannya, pemerintah Inggris mengatakan bahwa pencabutan sanksi dilakukan terhadap entitas yang sebelumnya terkait dengan rezim Assad. Termasuk Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertahanan Suriah, serta beberapa lembaga intelijen dan media.

Menurut Kantor Sanksi Keuangan Inggris (OFSI), entitas yang tidak lagi tunduk pada sanksi sebelumnya terlibat dalam penindasan warga sipil atau mendapat manfaat dari kedekatan dengan rezim Suriah.

Namun, kepemimpinan baru Suriah telah mengumumkan pembubaran lembaga keamanan warisan rezim Assad, sebagai bagian dari reformasi internal.

Pemerintah Suriah yang baru sekarang secara aktif melobi negara -negara Barat untuk mencabut sanksi internasional.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan kondisi ekonomi dan mempercepat proses setelah rekonstruksi yang telah berlangsung selama hampir 14 tahun.

Pada bulan Maret, Inggris mengambil langkah serupa dengan mencabut pembekuan aset terhadap Bank Sentral Suriah dan 23 entitas lainnya, termasuk bank dan perusahaan energi.

Namun demikian, Inggris menekankan bahwa sanksi untuk individu yang terlibat dalam pemerintah Assad masih akan ditegakkan.

Ini sejalan dengan sikap Uni Eropa dan Inggris sejak 2011 yang telah menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap Suriah sebagai tanggapan terhadap tindakan kuat pemerintah terhadap demonstrasi damai.

Sanksi ini termasuk embargo senjata, larangan impor minyak dan produk minyak Suriah, membekukan aset bank sentral, serta pembatasan ekspor teknologi yang dapat digunakan untuk pengawasan atau penindasan domestik.

Lebih dari itu, ratusan individu dan entitas yang memiliki hubungan dengan rezim Assad juga tunduk pada sanksi dalam bentuk larangan perjalanan dan aset pembekuan.

RakyatPos World

Klik Terkait

Wamen ATR Ossy Dermawan Jalani Adat Mopotilolo di Gorontalo
Kanwil DJP Riau Gandeng P3KPI dan IKTS Sosialisasi PPh Final UMKM
Wabup Surya Ajak Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 Tojo Una-Una
Cuaca Panas di Riau, Siak Waspadai Karhutla Lahan Gambut
Plt Gubernur Riau Apresiasi Strategi TP-PKK Kota Pekanbaru Dongkrak PAD
Kasus Meningkat, Wako Pekanbaru  Minta Skrining HIV Diperkuat
Pemko Pekanbaru Usulkan 76 Sekolah Ikut Revitalisasi
Bupati Bangkep Audiensi Kemenko Pangan Bahas Penguatan Pertanian-Perikanan

Klik Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 17:47 WIB

Wamen ATR Ossy Dermawan Jalani Adat Mopotilolo di Gorontalo

Jumat, 19 Juni 2026 - 19:13 WIB

Kanwil DJP Riau Gandeng P3KPI dan IKTS Sosialisasi PPh Final UMKM

Kamis, 18 Juni 2026 - 16:00 WIB

Wabup Surya Ajak Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 Tojo Una-Una

Senin, 8 Juni 2026 - 17:59 WIB

Cuaca Panas di Riau, Siak Waspadai Karhutla Lahan Gambut

Senin, 8 Juni 2026 - 16:30 WIB

Plt Gubernur Riau Apresiasi Strategi TP-PKK Kota Pekanbaru Dongkrak PAD

Klik Terbaru

Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) Febrie Adriansyah merasa dikriminalisasi usai ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan penyidik Korps Adhyaksa dalam dugaan kasus korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). (CNN Indinesia/ANT)

Hukum & Kriminal

Kejagung Tahan Eks Jampidsus Febrie di Rutan KPK, Ini Alasannya

Sabtu, 25 Jul 2026 - 01:10 WIB