KlikIndonesia – Permasalahan sampah masih menjadi tantangan besar di Bandung dan Jawa Barat. Data menunjukkan akumulasi sampah di Jawa Barat mencapai jutaan ton setiap tahunnya, dengan Kota Bandung menghadapi timbunan hingga 42.500 ton per bulan, sementara tidak semua sampah berhasil terangkut ke TPA. Kondisi ini menimbulkan persoalan lingkungan sekaligus menghambat potensi ekonomi dari pengelolaan limbah.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim dosen dan mahasiswa Telkom University bekerja sama dengan Saxion University, Belanda, serta Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, melalui program Kolaborasi Luar Negeri Abdimas Internasional berjudul Development of Digital Waste Management Practice in Bandung District. Program ini berfokus pada penerapan Integrated Waste Management (IWM) berbasis teknologi informasi dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan dilaksanakan selama hampir dua minggu, 11–21 Mei 2024, dengan melibatkan mahasiswa Indonesia dan Belanda. Peserta mendapatkan pengalaman langsung mulai dari edukasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), praktik pengolahan sampah organik menjadi kompos dan budidaya maggot, hingga daur ulang sampah anorganik menjadi produk kerajinan. Selain itu, dilakukan kunjungan ke TPST Babakan Siliwangi, Sekolah Lingkungan Kang Pisman, UMKM Widji Kopi, serta Desa Wisata Alamendah untuk mempelajari integrasi pengelolaan sampah dengan pertanian, UMKM, dan ekowisata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Nur Ichsan, selaku ketua tim Abdimas Internasional Telkom University, “Kolaborasi ini bukan hanya mempertemukan mahasiswa Indonesia dan Belanda, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkaya wawasan tentang praktik pengelolaan sampah modern yang dapat disesuaikan dengan konteks lokal di Bandung. Dengan berbagi pengalaman lintas negara, kita membangun pemahaman baru yang lebih aplikatif dan berkelanjutan.”
Sejalan dengan itu, Muharman Lubis, anggota tim Abdimas, menambahkan, “Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa teknologi digital bisa menjadi katalis dalam sistem pengelolaan sampah, tetapi yang paling penting adalah partisipasi masyarakat. Tanpa keterlibatan aktif warga, sistem secanggih apapun tidak akan berjalan optimal.”
Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman mahasiswa asing dan lokal tentang sistem pengelolaan sampah di Bandung, terbukanya solusi berbasis teknologi untuk daur ulang, serta penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Selain itu, mahasiswa menghasilkan presentasi proyek akhir terkait manajemen sampah dan pengelolaan kopi, yang dibandingkan dengan praktik di Belanda.
Program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
- SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): pengembangan teknologi digital untuk mendukung sistem pengelolaan sampah.
- SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan): penerapan praktik IWM untuk menciptakan kota yang lebih tangguh.
- SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): edukasi pemilahan dan pengurangan sampah sejak dari sumber.
- SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): kolaborasi internasional Indonesia–Belanda dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Dengan pendekatan berbasis teknologi dan partisipasi masyarakat, program ini memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kapasitas lokal, meningkatkan kesadaran publik, dan mempercepat transisi menuju sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. (rls)









