Nelayan Kabalutan Diintai Maut dan Stigma Bom Ikan

- Redaksi

Rabu, 17 Desember 2025 - 06:46 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Imbauan Polres Tojo Una- una terkait Bom Ikan di Pulau Kabalutan. ( Ft :hms Polres Touna/wina/ist)

Imbauan Polres Tojo Una- una terkait Bom Ikan di Pulau Kabalutan. ( Ft :hms Polres Touna/wina/ist)

Catatan Perjalanan : Wina Choswara

Bagian : (2)

Masih tentang Kabalutan dan Daeng Siri

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

SELAIN dijuluki “Kampung Janda”, desa ini juga dikenal dengan sebutan “Kampung Bom Ikan” atau bondet. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Maraknya aktivitas penangkapan ikan menggunakan bahan peledak kerap dikaitkan dengan warga Kabalutan, sehingga  menjadi perhatian serius pihak berwenang. Praktik  ini sangat dilarang karena merusak terumbu karang dan mematikan biota laut disekitarnya.

Menanggapi stigma tersebut, Daeng Siri menjelaskan bahwa sebagian besar warga Kabalutan memang bermata pencaharian sebagai nelayan, sementara sebagian lainnya bekerja di daratan.

“Mata pencarian warga di sini campuran. Sekitar 60 persen nelayan dan 40 persen petani serta pekerjaan lainnya. Namun sekarang sudah terjadi pergeseran, 50 persen ke laut dan 50 persen ke darat serta berkebun,” jelasnya.

Ia tidak memungkiri bahwa praktik pengeboman ikan dilakukan oleh sebagian nelayan Kabalutan. Namun, menurutnya, hal itu  sudah berangsur ditinggalkan. Saat ini, nelayan justru lebih banyak mencari ikan dengan cara menyelam ke dasar laut.

“Saat ini sudah sangat berkurang. Sekarang sebagian warga mencari ikan dengan cara menyelam,” ujarnya.

Perbincangan ku  dengan Daeng Siri tentang kehidupan nelayan Kabalutan pun berlanjut. Daeng Siri mengungkapkan fakta yang memprihatinkan, bahwa bahaya maut kerap mengintai para nelayan saat melakukan penyelaman.

“Di sini hampir setiap bulan ada nelayan yang meninggal. Biasanya karena saat menyelam di kedalaman tertentu mereka kehabisan gas dari kompresor dan tidak sempat naik ke permukaan,” bebernya dengan raut penuh kesedihan.

Sebagai mantan kepala desa yang memahami betul kondisi dan keluhan warganya, Daeng Siri berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah Tojo Una- una.

“Kami berharap ada bantuan dari pemerintah agar kompresor diganti dengan tabung oksigen. Ini untuk mengurangi angka kematian nelayan karena mengancam keselamatan masyarakat. Selama ini bantuan belum ada,”kata Daeng dengan sedikit kecewa, karena pihak berwenang hanya bisa melarang dan memberi imbauan tanpa ada solusi.

Daeng Siri beralasan menyelam dikedalaman terpaksa dilakukan karena sebagian warga tak punya lagi mata pencarian selain sebagai nelayan penangkap ikan.

Ia juga memberikan masukan agar citra Desa Kabalutan tidak terus tercoreng akibat isu bom ikan dan tingginya angka kematian nelayan. Menurutnya diperlukan sinergi antara pemerintah desa dan Dinas Pariwisata.

Ia memandang pemda perlu menempatkan perwakilan khusus sebagai penghubung komunikasi, agar apa yang menjadi keinginan warga bisa tersampaikan.

“Alhamdulillah setiap tahun sudah ada Festival Suku Bajo dan kesadaran masyarakat mulai tumbuh tentang desa wisata. Hampir setiap hari ada orang asing datang ke Kabalutan, meski di sini belum ada penginapan,” ujar Daeng Siri.

Selain air bersih yang sudah terpenuhi, penginapan juga harus tersedia di tanah leluhurnya ini. Daeng yakin, dengan dukungan fasilitas yang memadai, pariwisata Kabalutan akan berkembang pesat di pulau cantik ini.

“Jika pariwisata tumbuh, mata pencaharian akan beralih, dan praktik pengeboman ikan akan semakin berkurang,” tutup Daeng Siri optimis.

Usai berbincang dengan Daeng Siri sang mantan kepala desa, aku pun bersiap menuju destinasi selanjutnya. (*)

Touna, 04, Desember 2025

Penulis : WINA CHOSWARA

Editor : REDAKSI

Sumber Berita: KLIK INDONESIA

Follow WhatsApp Channel www.klikindonesia.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Klik Terkait

Gubernur Anwar Hafid Minta Evaluasi Asta Cita Fokus Solusi
Bupati Ilham Lawidu Sambut Rakor Asta Cita di Touna
MIN 4 Banggai Gelar Upacara Pembukaan Perkemahan Persari dan Perjusa
Polri Perluas Pencarian 8 Korban Jurnalis-Awak Kapal di Selat Sunda
Gubernur Anwar Hafid Dijadwalkan Buka Festival Budaya Bakulupi 2026 Touna
Pengacara Terdakwa Kasus Kuota Haji Minta Hakim Panggil Jokowi
RSUD Luwuk Gelar Audit Klinis TB Resisten Obat Perkuat Mutu Layanan
Pemkab Bangkep Tekan MoU dengan Kejari Balut Atasi Persoalan Hukum

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Klik Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 16:13 WIB

Gubernur Anwar Hafid Minta Evaluasi Asta Cita Fokus Solusi

Sabtu, 12 September 2026 - 16:06 WIB

Bupati Ilham Lawidu Sambut Rakor Asta Cita di Touna

Sabtu, 12 September 2026 - 05:53 WIB

MIN 4 Banggai Gelar Upacara Pembukaan Perkemahan Persari dan Perjusa

Kamis, 10 September 2026 - 17:16 WIB

Polri Perluas Pencarian 8 Korban Jurnalis-Awak Kapal di Selat Sunda

Kamis, 10 September 2026 - 16:00 WIB

Pengacara Terdakwa Kasus Kuota Haji Minta Hakim Panggil Jokowi

Klik Terbaru

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid meminta evaluasi pelaksanaan Asta Cita di daerah fokus pada pemecahan masalah lapangan.(ist)

SULTENG

Gubernur Anwar Hafid Minta Evaluasi Asta Cita Fokus Solusi

Sabtu, 12 Sep 2026 - 16:13 WIB

Bupati Tojo Una-Una Ilham Lawidu saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Rapat Koordinasi (Rakor) Evaluasi Program Asta Cita di Reconnect Buka Buka Island, Kecamatan Ampana Tete, Jumat (11/9/2026).

SULTENG

Bupati Ilham Lawidu Sambut Rakor Asta Cita di Touna

Sabtu, 12 Sep 2026 - 16:06 WIB