Erwin bukanlah satu-satunya. Ia hanyalah satu dari jutaan orang Indonesia yang setiap hari bergulat dengan layar yang tanpa sadar bahwa mata mereka sedang berperang diam-diam melawan kebiasaan digital.
JAM menunjukkan pukul 22.00, tetapi Erwin (42) masih menatap layar komputer. Ini adalah jam kedelapan ia bekerja sejak pagi. Tugasnya sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta menuntutnya terus terpaku pada monitor — spreadsheet, surel, laporan — semuanya dalam kotak-kotak cahaya yang tak pernah padam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Awalnya, Erwin mengabaikan sensasi perih di sudut matanya. Ia pikir itu hanya efek lelah biasa. Tapi rasa itu tak kunjung hilang. Malah, semakin hari semakin menjadi.
“Mata lelah dan terasa kering, selanjutnya kepala ikut terasa pusing,” ungkapnya, suaranya mengisahkan pengalaman yang kini makin lazim di kalangan pekerja kantoran.
Erwin bukanlah satu-satunya. Ia hanyalah satu dari jutaan orang Indonesia yang setiap hari bergulat dengan layar — telepon genggam, laptop, tablet, monitor — tanpa sadar bahwa mata mereka sedang berperang diam-diam melawan kebiasaan digital.
Ketika Berkedip Jadi Kemewahan
Firda Muthia Elsyanty, Sp.M, dokter spesialis mata dari RS Awal Bros Gajah Mada Batam, menjelaskan bahwa fenomena yang dialami Erwin adalah konsekuensi langsung dari gaya hidup modern.
“Akibat frekuensi terlalu lama menatap layar handphone atau komputer bisa menyebabkan mata lelah dan efek lainnya,” terangnya.
Namun yang lebih mengkhawatirkan, menurut dr. Firda, adalah kebiasaan tak sadar yang terjadi saat seseorang tenggelam dalam layar.
“Terlalu lama berinteraksi dengan layar juga mengurangi frekuensi mata berkedip, padahal berkedip itu membantu pelumasan bola mata,” ujarnya.
Normalnya, manusia berkedip 15 hingga 20 kali per menit. Saat menatap layar, angka itu bisa turun drastis menjadi hanya 5 hingga 7 kali per menit. Akibatnya, lapisan air mata yang melindungi kornea menguap lebih cepat, dan mata kehilangan pelumas alaminya. Maka muncullah mata kering, penglihatan buram, dan sakit kepala yang dikeluhkan Erwin.
Fenomena ini memiliki nama medis: Computer Vision Syndrome (CVS) atau Sindrom Penglihatan Komputer. Gejalanya meliputi mata kering, iritasi, penglihatan ganda, sakit leher dan pundak, hingga sulit fokus. Dalam jangka panjang, CVS dapat memperburuk kondisi mata yang sudah memiliki kelainan refraksi seperti minus atau silinder.
Berapa Lama yang Aman?
Pertanyaan krusial yang kerap muncul: berapa lama sebenarnya waktu aman menatap layar?
Menurut dr. Firda, jawabannya tergantung usia.
“Untuk orang dewasa, screen time yang disarankan untuk hiburan adalah dua hingga empat jam. Sedangkan untuk remaja hanya dua jam saja, dan anak di bawah usia dua tahun malah tidak diperbolehkan sama sekali,” tandasnya.
Angka ini mungkin terdengar mustahil bagi pekerja kantoran seperti Erwin, yang harus delapan jam lebih berada di depan komputer. Namun dr. Firda menekankan bahwa batasan itu terutama berlaku untuk penggunaan layar di luar jam kerja — yakni untuk hiburan, media sosial, atau menonton video.
“Artinya, jika seseorang sudah menghabiskan delapan jam bekerja di depan komputer, ia harus sangat membatasi waktu layar tambahan di rumah,” jelasnya.
Jeda Itu Bernama 20-20-20
Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh para pekerja yang tak bisa lepas dari layar?
Para ahli mata merekomendasikan aturan sederhana yang disebut 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek yang berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Teknik ini memberi kesempatan otot-otot mata untuk rileks dan mengembalikan frekuensi kedipan normal.
Selain itu, dr. Firda menyarankan penggunaan tetes mata bebas pengawet (artificial tears) untuk membantu melembapkan mata, serta mengatur pencahayaan ruangan agar tidak terlalu terang atau terlalu redup dibandingkan kecerahan layar.
“Posisi layar juga penting. Idealnya, bagian atas monitor sejajar dengan mata atau sedikit lebih rendah, sehingga mata tidak perlu membuka terlalu lebar dan penguapan air mata bisa berkurang,” tambahnya.
Di Antara Layar dan Kenyataan
Malam semakin larut. Erwin akhirnya mematikan komputernya. Matanya terasa perih, tapi ia terbiasa. Esok hari, ia akan kembali duduk di kursi yang sama, menatap layar yang sama, menjalani siklus yang sama.
Ia tahu kebiasaan ini tak sehat. Tapi tagihan menunggu. Target harus dipenuhi. Dan dunia digital tak pernah tidur.
“Saya coba kurangi main HP di rumah sekarang. Tapi untuk kerja, mau tidak mau, ya harus,” ujarnya pasrah.
Di tengah gempuran era digital, kisah Erwin mengingatkan kita pada satu hal sederhana: di balik setiap layar yang terang, ada sepasang mata yang berjuang untuk tetap sehat. Dan perjuangan itu — antara produktivitas dan kesehatan — adalah kisah yang tak asing lagi bagi kita semua.##
Penulis : Sofyan Siahaan
Editor : Klik Indonesia









