Rahman dan Laut yang Kian Sepi: Menanti Kampung Nelayan Merah Putih

- Redaksi

Selasa, 21 April 2026 - 18:32 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Budi Dako bersama investor Dubai yang diinisiasi Saleh Ramli bersama Direktur Utama Perusda, Syaiful Wahid

Budi Dako bersama investor Dubai yang diinisiasi Saleh Ramli bersama Direktur Utama Perusda, Syaiful Wahid

Sore itu, Rahman kembali lebih cepat. Perahunnya kosong. Ia duduk di tepi perahu, menatap laut yang perlahan berubah jingga

 

PAGI belum benar-benar terang ketika Rahman (62) mendorong perahunya ke laut. Sendirian. Seperti hari-hari sebelumnya. Pasir basah menempel di kakinya yang renta, sementara angin pesisir Ampana Tete menampar lembut wajahnya yang mulai dipenuhi garis usia.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sekarang… lebih sering kosong,” ujarnya lirih, suaranya nyaris ditelan deburan ombak.

Jaring di tangannya penuh tambalan. Mesin perahunya sering mogok di tengah laut, memaksa ia mengayuh pulang dengan dayung kayu yang juga sudah lapuk. Di rumah kecil di tepi pantai Desa Podi, istrinya menunggu setiap sore — menunggu sesuatu yang selalu pulang bersama suaminya. Kadang hanya lelah. Kadang hanya diam. Anak-anak mereka telah lama memilih pergi, meninggalkan laut yang tak lagi menjanjikan masa depan.

Namun Rahman tetap bertahan. Bagi dirinya, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan napas yang ia warisi dari ayah dan kakeknya.

Harapan dari Kampung Nelayan Merah Putih

Kisah Rahman adalah satu dari sekian banyak wajah nelayan kecil di pesisir Tojo Una-Una. Di tengah keterbatasan, harapan itu kini perlahan datang melalui program Kampung Nelayan Merah Putih yang digagas Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Program tersebut menyasar dua desa di Kecamatan Ampana Tete, yakni Desa Podi dan Desa Tete B, yang belum lama ini ditinjau langsung oleh tim KKP. Tujuannya jelas: memulihkan ekonomi masyarakat pesisir, menata kawasan nelayan, sekaligus memberi kepastian hidup yang lebih layak bagi mereka yang selama ini menggantungkan diri pada laut.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tojo Una-Una, Rahmat Basri, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk berdiri bersama nelayan kecil seperti Rahman.

“Kami memahami kondisi nelayan saat ini. Program ini diharapkan dapat memberi kepastian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.

Menurut Rahmat, Kampung Nelayan Merah Putih bukan sekadar program fisik berupa penataan kampung dan bantuan alat tangkap. Lebih jauh, program ini akan menjadi pijakan ekonomi baru — dari hulu ke hilir — agar hasil tangkapan nelayan punya nilai tambah dan rantai pasar yang lebih adil.

Membuka Pintu untuk Investor Dubai

Tak berhenti di sana, Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una juga membuka ruang investasi di tengah keterbatasan anggaran daerah. Langkah strategis itu membuahkan hasil dengan hadirnya minat investor asal Dubai, melalui peran Perusahaan Daerah (Perusda) Tojo Una-Una.

Pada Minggu (19/3/2026), Pemda Tojo Una-Una menerima kunjungan investor Dubai yang diinisiasi Saleh Ramli bersama Direktur Utama Perusda, Syaiful Wahid. Pertemuan itu membuka babak baru kerja sama dengan PT Farmsent Energi, yang dalam waktu dekat direncanakan menggarap pengembangan sektor energi terbarukan, perikanan, dan pertanian sebagai penggerak ekonomi biru daerah.

Kerja sama lintas negara ini menjadi bukti bahwa pemerintah daerah tidak hanya bertumpu pada APBD, tetapi juga aktif menjemput peluang kemitraan untuk mempercepat pembangunan dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat pesisir.

Menunggu Perubahan Sampai ke Pantai

Sore itu, Rahman kembali lebih cepat dari biasanya. Perahunya kosong. Ia duduk di tepi perahu, menatap laut yang perlahan berubah jingga, lalu jingga itu meredup menjadi keperakan.

Berita tentang program Kampung Nelayan Merah Putih dan investor dari Dubai memang sayup-sayup ia dengar dari obrolan di warung kopi tepi dermaga. Namun bagi Rahman, semua itu masih terasa jauh — seperti kapal besar yang berlayar di kaki langit, terlihat tetapi belum benar-benar singgah.

Ia tak banyak menuntut. Yang ia minta hanya satu: agar laut kembali ramah, agar jaring kembali berat saat ditarik, dan agar istrinya tak lagi menunggu dengan tangan kosong di senja hari.

“Selama laut masih memberi, saya tidak akan berhenti,” ujarnya pelan, hampir seperti doa.

Di tengah program besar dan investasi yang mulai bergerak, Rahman tetap menjadi wajah dari harapan itu — nelayan kecil yang bertahan, menunggu perubahan benar-benar sampai ke pantai tempat ia berpijak. ##

Penulis : Budi Dako

Editor : Mahmud Marhaba

Follow WhatsApp Channel www.klikindonesia.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Klik Terkait

Erwin dan Pertarungan Melawan Mata Kering di Era Digital

Klik Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 18:48 WIB

Erwin dan Pertarungan Melawan Mata Kering di Era Digital

Selasa, 21 April 2026 - 18:32 WIB

Rahman dan Laut yang Kian Sepi: Menanti Kampung Nelayan Merah Putih

Klik Terbaru