Isak tangis di tengah puing: panggilan anak dari Gaza

- Redaksi

Jumat, 25 April 2025 - 10:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sebuah rekaman video yang beredar luas di media sosial menunjukkan seorang bocah Palestina yang terluka parah setelah serangan udara Israel mengguncang daerah Yarmouk di kota Gaza.

Dalam video itu, anak itu tampak terlempar ke gedung berikutnya karena besarnya ledakan.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan tubuh yang tertutup darah dan wajah yang dipenuhi debu, dia mengangkat tangannya, bukan untuk melambaikan pemisahan, tetapi untuk meminta bantuan.

Serangan yang menargetkan rumahnya menyebabkan ayah dan 5 saudara perempuannya jatuh, sementara sang ibu mengalami cedera serius.

Di tengah -tengah reruntuhan bangunan dan tubuh yang rusak, anak itu berdiri sendiri, menjadi saksi hidup dari tragedi kemanusiaan yang kembali ke Gaza.

Video yang memilukan diabadikan oleh fotografer dan aktivis Palestina, Mahmoud Shalha, dan menyebar dengan cepat di berbagai platform digital.

Banyak warga negara menyatakan keprihatinan dan kemarahan, sambil mengajukan pertanyaan gantung: sampai ketika kekerasan ini akan terus terjadi tanpa akuntabilitas?

Jurnalis Al Jazeera, Anas al-Sharif, mengkonfirmasi bahwa anak dalam video itu bernama Ali Faraj Faraj.

Dia selamat secara ajaib dari serangan udara Israel di wilayah utara Gaza yang merenggut nyawa keluarganya.

“Ayah dan lima saudara perempuannya meninggal seketika. Sang ibu menderita luka serius,” kata al-Sharif.

Foto seorang anak yang mengangkat tangannya di tengah kehancuran bukan hanya permintaan bantuan.

Dia mewakili keheningan keheningan orang -orang Gaza – tuduhan keheningan dunia yang, bagi sebagian orang, lebih menyakitkan daripada perang itu sendiri.

Di tengah serangan yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, pertanyaan yang terus bergema dari para penyintas adalah: Berapa banyak anak yang harus mengangkat tangan mereka seperti ini sehingga dunia akhirnya bergerak? Puluhan ribu nyawa telah menjadi anak-anak yang hilang, wanita, dan pria-tetapi tindakan nyata dari komunitas internasional masih belum terlihat.

RakyatPos World

Follow WhatsApp Channel www.klikindonesia.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Klik Terkait

Disrupsi Informasi jadi Tantangan, Pemko Pekanbaru Ajak Media Perkuat Kepercayaan Publik
KM Balama GT 27 Mati Mesin di Perairan Luwuk-Taliabu, Tiga Orang Masih dalam Pencarian SAR
Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Kebakaran Kebun Kelapa di Inhil
Jumlah Titik Panas di Riau Turun Drastis Usai Diguyur Hujan
Festival Budaya Bakulupi: Makna Kebersamaan dalam Warisan Budaya Tojo Una-Una
Gubernur Anwar Hafid Minta Evaluasi Asta Cita Fokus Solusi
Bupati Ilham Lawidu Sambut Rakor Asta Cita di Touna
Terkait Isu P3K RSUD Ampana, Ini Penjelasan Resmi Sekwan Touna

Klik Terkait

Senin, 14 September 2026 - 11:34 WIB

Disrupsi Informasi jadi Tantangan, Pemko Pekanbaru Ajak Media Perkuat Kepercayaan Publik

Senin, 14 September 2026 - 06:40 WIB

KM Balama GT 27 Mati Mesin di Perairan Luwuk-Taliabu, Tiga Orang Masih dalam Pencarian SAR

Minggu, 13 September 2026 - 19:18 WIB

Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Kebakaran Kebun Kelapa di Inhil

Minggu, 13 September 2026 - 11:32 WIB

Jumlah Titik Panas di Riau Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Sabtu, 12 September 2026 - 16:13 WIB

Gubernur Anwar Hafid Minta Evaluasi Asta Cita Fokus Solusi

Klik Terbaru