KATHMANDU, Klik Indonesia – Pemerintah Nepal menolak tawaran bantuan tim penyelamat dari berbagai negara sahabat. Padahal, bencana banjir bandang dan tanah longsor di perbatasan Nepal-China telah menelan ratusan korban jiwa.
Hingga saat ini, pejabat setempat mengonfirmasi sebanyak 469 orang tewas akibat bencana tersebut. Selain itu, petugas juga masih mencari 1.400 korban yang dilaporkan hilang.
Meskipun demikian, Kementerian Luar Negeri Nepal tetap memilih menutup pintu bagi tim penyelamat luar negeri. Beberapa negara yang menawarkan bantuan antara lain India, China, Amerika Serikat, dan Inggris.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami menerima banyak permintaan resmi, tapi kami memutuskan menolak tawaran tersebut,” kata pejabat Kemlu Nepal, dikutip The Straits Times, Jumat, 28 Agustus 2026.
Fokus Koordinasi Satu Pintu
Sebagai gantinya, pemerintah Nepal membentuk Tim Tanggap Darurat (ERT) untuk menangani dampak bencana secara mandiri. Tim khusus ini bekerja di bawah pimpinan langsung Wakil Menteri Luar Negeri Nepal.
Selanjutnya, ERT akan memfasilitasi pencarian, penyelamatan, hingga verifikasi data para korban asing. Langkah ini bertujuan mempermudah koordinasi informasi agar terpusat pada satu pintu saja.
Sementara itu, juru bicara Kemlu Nepal Lok Bahadur Poudel Chettri membenarkan kebijakan penanganan terpusat tersebut. Pihaknya kini terus berkoordinasi dengan tim keamanan di lapangan untuk melacak warga asing.
“Wakil sekretaris mengumpulkan data lapangan untuk kami laporkan langsung ke kementerian,” jelas Chettri.
Respons Negara Sahabat
Di sisi lain, negara tetangga seperti India mengaku sangat menghormati keputusan berdaulat Nepal tersebut. Juru bicara Kemlu India Randhir Jaiswal menyatakan kesiapan mereka untuk membantu dalam bentuk lain.
Oleh karena itu, India mengirimkan bantuan kemanusiaan seberat 47,5 ton ke Nepal pada Jumat (28/8/2026). Selain India, Amerika Serikat dan Bank Dunia juga menyatakan bersedia menyalurkan bantuan logistik darurat.
Akhirnya, Menteri Luar Negeri Nepal Shishir Khanal meminta perwakilan diplomatik mereka di luar negeri aktif berkoordinasi. Dengan demikian, proses pembaruan data korban bencana dapat berjalan lancar kepada pihak keluarga.*[]
Penulis : Redaksi
Editor : Mahmud Marhaba
Sumber Berita: CNN Indonesia.com















