KLIK INDONESIA, MANGGARAI TIMUR — Video viral yang beredar memperlihatkan Camat Lamba Leda Utara, Agustinus Supratman, beradu argumen dengan petugas BNPB. Perdebatan itu membahas distribusi bantuan bagi warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Dalam rekaman tersebut, Agustinus meminta penyaluran bantuan berjalan adil, transparan, dan sesuai kebutuhan warga terdampak. Ia mengaku menerima tekanan untuk membagi bantuan secara merata kepada 11 desa di wilayahnya.
Padahal, menurut Agustinus, jumlah bantuan yang tersedia belum sebanding dengan kebutuhan 21.171 warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Video tersebut kemudian viral di media sosial pada Jumat (21/8/2026).
Namun, redaksi masih perlu memperoleh konfirmasi independen mengenai waktu, lokasi, serta rangkaian percakapan secara lengkap.
Camat Minta Bantuan Tepat Sasaran
Agustinus mengatakan seluruh desa di Kecamatan Lamba Leda Utara meminta kejelasan mengenai bantuan pascagempa. Namun, ia menghadapi keterbatasan logistik ketika harus melayani warga dari 11 desa.
Saya merasa tertekan sekali, terbebani. Saya harus membagi ke 11 desa, tetapi bukan begitu caranya,” kata Agustinus dalam video yang beredar.
Menurut Agustinus, warga dari berbagai desa terus mempertanyakan bantuan yang belum mereka terima. Selain itu, ia membantah anggapan bahwa bantuan yang tersedia sudah sangat banyak. Ia menilai jumlah logistik belum cukup apabila pemerintah membaginya kepada seluruh penduduk secara merata.
“Bapak bilang bantuan banyak sekali, padahal yang ada hanya ini,” ujar Agustinus.
Ia juga mengaku menghadapi tekanan akibat laporan ke kementerian dan berbagai panggilan telepon. Karena itu, Agustinus meminta petugas menyalurkan bantuan berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan aktual warga.
“Kita urus masyarakat ini bersama-sama. Jangan ada tekanan-tekanan,”ujarnya.
Ia meminta semua pihak menjaga penyaluran bantuan agar tetap adil dan tepat sasaran.
“Jangan sampai warga yang paling membutuhkan justru tidak mendapatkannya,” tegas Agustinus.
Hingga Jumat siang, BNPB belum menyampaikan tanggapan khusus terkait isi perdebatan dalam video tersebut.
BNPB Sebut Logistik Terus Dikirim
Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan pemerintah terus memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi gempa NTT. Ia mengakui penanganan pascagempa masih menyisakan sejumlah kekurangan di lapangan.
“Kami terus bekerja keras dan cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di pengungsian,” kata Suharyanto dalam keterangan tertulis.
Ia menyebut pemerintah juga terus memperbaiki kekurangan yang muncul selama penanganan bencana. BNPB mencatat bantuan logistik Presiden dan bantuan lainnya mencapai 411 ton selama 15 hingga 19 Agustus 2026.
Kemudian, BNPB menyalurkan 72,77 ton bantuan melalui jalur udara pada 19 Agustus 2026. Distribusi pada hari itu mencakup 5.000 paket sembako ke Posko Maumere.
Selain itu, BNPB juga mengirim 2.900 paket sembako ke Posko Labuan Bajo. KRI Bung Hatta turut membawa bantuan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai. Kapal tersebut membawa paket bantuan Presiden, sembako, tenda, serta donasi masyarakat. Bantuan itu ditujukan bagi warga terdampak di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
TNI AL juga mengoperasikan KRI dr. Soeharso untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi korban gempa. BNPB menyiapkan 882 unit tenda serta dua rumah sakit lapangan untuk mendukung pengungsian.
Suharyanto juga menyoroti keluhan warga mengenai air bersih dan listrik di sejumlah posko. Keluhan tersebut antara lain muncul di Posko Pengungsian Reo, Kabupaten Manggarai.
“Kami memastikan distribusi terus berjalan ke wilayah terisolasi melalui jalur laut dan udara,” ujar Suharyanto.
Korban Meninggal Bertambah Menjadi 83 Jiwa
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, melaporkan jumlah korban meninggal mencapai 83 jiwa. Data tersebut tercatat pada Jumat (21/8/2026) pukul 16.00 WIB.
Jumlah korban meninggal bertambah delapan jiwa dari laporan sebelumnya, yakni 75 orang. BNPB merinci tambahan korban berasal dari Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Ngada.
Namun, rincian yang tersedia menyebut dua korban di Manggarai dan Manggarai Timur. Kemudian, BNPB mencatat dua korban di Nagekeo serta satu korban di Ngada.
Rincian tersebut berjumlah tujuh orang sehingga BNPB perlu mengklarifikasi selisih satu korban lainnya. Selain korban meninggal, BNPB mencatat 986 orang mengalami luka-luka.
Angka tersebut bertambah 79 orang dari data sebelumnya. Sementara itu, jumlah pengungsi mencapai 110.785 jiwa atau bertambah 18.050 orang. BNPB juga mencatat 44.946 rumah mengalami kerusakan akibat gempa.
Rinciannya meliputi 17.176 rumah rusak berat, 9.758 rusak sedang, dan 18.013 rusak ringan. Namun, penjumlahan rincian tersebut mencapai 44.947 unit rumah.
Karena itu, data kerusakan rumah juga membutuhkan pembaruan dari BNPB. BMKG mencatat 4.258 gempa susulan sejak gempa utama magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026).
Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil berkekuatan magnitudo 1,1. Sebanyak 118 gempa susulan turut dirasakan masyarakat di wilayah terdampak.*[]
Penulis : Redaksi
Editor : Mahmud Marhaba
Sumber Berita: CNN Indonesia.com















